Persebaran
warga NU (nahliyin) semakin merata, tidak hanya di wilayah pedesaan.
Hasil survei terbaru yang dilakukan oleh Alvara Research Center di 10
kota besar di Indonesia menunjukkan sebanyak 58,8 warga muslim di
perkotaan mengaku nahdliyin.
Direktur Alvara Research Center,
Hasanuddin Ali, dalam konferensi pers yang digelar di kawasan Cikini
Jakarta, Kamis (5/6/2014) siang menjelaskan, survei dilakukan pada
tanggal 18-28 Mei 2014 di 10 kota terhadap 1.400 responden muslim
berusia 20-54 tahun.
10 kota ang dituju adalah Jakarta,
Bandung,Surabaya, Semarang, Medan, Palembang, Pekanbaru, Balikpapan,
Banjarmasin dan Makassar. Metode sampling yang digunakan adaah
stratified random dengan margin error sebesar 2,4%.
Dari hasil survei juga diketahui 30,2%
muslim kota mengaku tidak memiliki kedekatan dengan ormas Islam manapun.
Sisanya mengaku warga Muhammadiyah (9,2%), Persis (0,7%), LDII (0,3%),
HTI (0,2%), FPI (0,1%) dan ormas lainnya (0,4%).
Ada hal yang tidak kalah menarik. Tim
survei juga menanyakan kepada responden muslim kota apakah mereka
mempraktikkan ritual tahlilan, mauludan, qunut subuh, ziarah kubur dan
berapa rakaat mereka menjalankan shalat tarawih?
“Mayoritas muslim kota mempraktikkan
ritual keagamaan seperti tahlilan 81,5%, mauludan 89,2%, qunut subuh
77,3% seperti biasa dilakukan warga nahdliyin. Namun untuk ziarah kubur
hanya 48,7% yang mengaku menjalankannya,” kata Ihsan.
Yang lebih menarik lagi, meskipun
mayoritas menjalankan ritual nahdliyin, sebagian besar muslim kota lebih
memilih shalat tarawih-witir 11 rakaat (64,8%) dari pada 23 rakaat
(35,2%.) Mengapa demikian? Kata Ihsan, karena merasa capek bekerja dan
tidak punya waktu, orang muslim kota lebih memilih shalat tarawih yang
rakaatnya sedikit. (A. Khoirul Anam/ NU Online)
0 comments:
Post a Comment