Pidato
Rois Akbar Hadhratus Syekh KH. Hasyim Asy’ari pada saat didirikannya NU
pada 16 Rajab tahun 1344 H/ 31 Januari 1926 M di Surabaya
Segala puji bagi Allah yang telah
menurunkan al-Qur’an kepada hambaNya agar menjadi pemberi peringatan
kepada sekalian umat dan menganugerahinya hikmah serta ilmu tentang
sesuatu yang Ia kehendaki. Dan barangsiapa dianugerahi hikmah, maka
benar-benar mendapat keberuntungan yang melimpah.
Allah Ta’ala berfirman: “Wahai Nabi, Aku
utus Engkau sebagai saksi, pemberi kabar gembira dan penyeru kepada
(agama) Allah serta sebagai pelita yang menyinari.” (QS. al- Ahzab ayat
45-46)
“Serulah ke jalan Tuhanmu dengan
bijaksana, peringatan yang baik dan bantahlah mereka dengan yang lebih
baik. Sesungguhnya Tuhanmulah yang mengetahui siapa yang sesat dari
jalanNya dan Dia Maha Mengetahui orang-orang yang mendapat hidayah.”
(QS. an-Naml ayat 125).
“Maka berilah kabar gembira
hamba-hambaKu yang mendengarkan perkataan dan mengikuti yang paling baik
darinya. Merekalah orang-orang yang diberi hidayah oleh Allah dan
merekalah orang-orang yang mempunyai akal.” (QS. az-Zumar ayat 17-18).
“Dan katakanlah: Segala puji bagi Allah
yang tak beranakkan seorang anakpun, tak mempunyai sekutu penolong
karena ketidakmampuan. Dan agungkanlah seagung-agungnya.” (QS. al-Kahfi
ayat 111).
“Dan sesungguhnya inilah jalanKu
(agamaKu) yang lurus, maka ikutilah dia dan jangan ikuti berbagai jalan
(yang lain) nanti akan mencerai-beraikan kamu dari jalanNya. Demikianlah
Allah memerintahkan agar kamu semua bertaqwa.” (QS. al-An’am ayat 153).
“Wahai orang-orang yang beriman,
taatilah Allah dan taatilah Rasul serta Ulil Amri diantara kamu.
Kemudian jika kamu berselisih dalam suatu perkara, maka kembalikanlah
perkara itu kepada Allah dan Rasul kalau kamu benar-benar beriman kepada
Allah dan hari Kemudian. Yang demikian itu lebih bagus dan lebih baik
kesudahannya.” (QS. an-Nisa’ ayat 59).
“Maka orang-orang yang beriman kepadaNya, mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (QS. al-A’raf ayat 157).
“Dan orang-orang yang datang sesudah
mereka (Muhajirin dan Anshar) berdo’a: Ya Tuhan ampunilah kami dan
saudara-saudara kami yang telah mendahului kami beriman dan janganlah
Engkau jadikan dalam hati kami kedengkian terhadap orang-orang yang
beriman. Ya Tuhan kami sesungguhnya Engkau Maha Pengasih lagi Maha
Penyayang.” (QS. al-Hasyr ayat 10).
“Wahai manusia, sesungguhnya Aku telah
menciptakan kamu dari seorang lelaki dan seorang perempuan dan
menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling
mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di sisi Allah adalah
orang yang paling bertakwa kepada Allah diantara kamu semua.” (QS.
al-Hujurat ayat 13).
“Sesungguhnya yang takut kepada Allah diantara hamba-hambaNya hanyalah Ulama.” (QS. al-Fathir ayat 58)
“Diantara orang-orang yang mukmin ada
orang-orang yang menepati apa yang mereka janjikan kepada Allah, lalu
diantara mereka ada yang gugur dan diantara mereka ada yang menunggu,
mereka sama sekali tidak merubah (janjinya).” (QS. al-Ahzab ayat 23).
“Wahai orang-orang yang beriman,
bertaqwalah kamu kepada Allah dan beradalah kamu bersama orang-orang
yang jujur.” (QS. at-Taubah ayat 119).
“Dan ikutilah jalan orang yang kembali kepadaKu.” (QS. Luqman ayat 15).
“Maka bertanyalah kamu kepada orang-orang yang berilmu jika kamu tidak mengetahui.” (QS. al-Anbiya’ ayat 7).
“Adapun orang-orang yang dalam hati
mereka terdapat kecenderungan menyeleweng, maka mereka mengikuti
ayat-ayat yang mutasyabihat dari padanya untuk menimbulkan fitnah dan
mencari-cari takwilnya, padahal tidak ada yang mengetahui takwilnya
kecuali Allah. Sedangkan orang-orang yang mendalam ilmunya mereka
mengatakan: “Kami beriman kepada ayat-ayat mutasyabihat itu, semuanya
dari sisi Tuhan kami.” Dan orang-orang yang berakal saja yang dapat
mengambil pelajaran (dari padanya).” (QS. Ali Imron ayat 7).
“Barangsiapa menentang Rasul setelah
petunjuk jelas padanya dan dia mengikuti selain ajaran-ajaran orang
mukmin, maka Aku biarkan ia menguasai kesesatan yang telah dikuasainya
(terus bergelimang dalam kesesatan) dan Aku masukkan ke neraka jahanam.
Dan neraka jahanan itu adalah seburuk-buruk tempat kembali.” (QS.
an-Nisa’ ayat 115).
“Takutlah kamu semua akan fitnah yang
benar-benar tidak hanya khusus menimpa orang-orang dzalim diantara kamu.
Dan ketahuilah bahwa Allah sangat dahsyat siksaNya.” (QS. al-Anfal ayat
25).
“Janganlah kamu bersandar kepada orang-orang dzalim, maka kamu akan disentuh api neraka.” (QS. al-Hud ayat 113).
“Wahai orang-orang yang beriman jagalah
diri-diri kamu dan keluarga kamu dari api neraka yang bahan bakarnya
adalah manusia dan batu, di atasnya berdiri Malaikat-malaikat yang
kasar, keras, tidak pernah mendurhakai Allah terhadap apa yang
diperintahkanNya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang
diperintahkan kepada mereka.” (QS. at-Tahrim ayat 6).
“Dan janganlah kamu seperti orang-orang
yang mengatakan: “Kami mendengar”, padahal mereka tidak mendengar.” (QS.
al-Anfal ayat 21).
“Sesungguhnya seburuk-buruk makhluk
melata, menurut Allah, ialah mereka yang tuli (tidak mau mendengar
kebenaran) dan bisu (tidak mau bertanya dan menuturkan kebenaran) yang
tidak berpikir.” (QS. al-Anfal ayat 22).
“Dan hendaklah ada di antara kamu,
segolongan umat yang menyeru kepada kebaikan, menyuruh kepada yang
makruf dan mencegah kemungkaran. Dan mereka itulah orang-orang yang
beruntung.” (QS. Ali Imran ayat 104).
“Dan saling tolong menolong kamu dalam
(mengerjakan) kebajikan dan taqwa; janganlah tolong menolong dalam
berbuat dosa dan permusuhan. Dan bertaqwalah kamu kepada Allah,
sesungguhnya Allah sangat dahsyat siksaNya.” (QS. al-Maidah ayat 2).
“Wahai orang-orang yang beriman,
bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu serta berjaga-jagalah
(menghadapi serangan musuh di perbatasan). Dan bertaqwalah kepada Allah
agar kamu mendapat keberuntungan.” (QS. Ali Imran ayat 200).
“Dan berpegangteguhlah kamu semuanya
kepada tali (agama) Allah dan jangan kamu bercerai-berai, dan ingatlah
nikmat Allah yang dilimpahkan kepadamu ketika kamu dahulu bermusuhan
lalu Allah merukunkan antara hati-hati kamu, kemudian kamu pun (karena
nikmatnya) menjadi orang-orang yang bersaudara.” (QS. Ali Imran ayat
103).
“Dan janganlah kamu saling bertengkar,
nanti kamu jadi gentar dan hilang kekuatanmu dan tabahlah kamu.
Sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang tabah.” (QS. al-Anfal ayat
46).
“Sesungguhnya orang-orang yang beriman
itu bersaudara, maka damaikanlah antara kedua saudaramu dan bertaqwalah
kepada Allah, supaya kamu dirahmati.” (QS. al-Hujurat ayat 10).
“Kalau mereka melakukan apa yang
dinasehatkan kepada mereka, niscaya akan lebih baik bagi mereka dan
memperkokoh (iman mereka). Dan kalau memang demikian, niscaya Aku
anugerahkan kepada mereka pahala yang agung dan Aku tunjukkan mereka
jalan yang lurus.” (QS. an-Nisa’ ayat 66-68).
“Dan orang-orang yang berjihad dalam
(mencari) keridhaanku, pasti Aku tunjukkan mereka jalanKu, sesungguhnya
Allah benar-benar bersama orang-orang yang berbuat baik.” (QS.
al-Ankabut ayat 69).
“Sesungguhnya Allah dan
Malaikat-malaikat bersalawat untuk Nabi. Wahai orang-orang yang beriman
bersalawatlah kamu untuknya dan bersalamlah dengan penuh penghormatan.”
(QS. al-Ahzab ayat 56). “… Dan orang-orang yang mengikuti jejak mereka
(Muhajirin dan Anshar) dengan baik, Allah ridla kepada mereka.”
Amma Ba’du. Sesungguhnya pertemuan dan
saling mengenal persatuan dan kekompakan adalah merupakan hal yang tidak
seorangpun tidak mengetahui manfaatnya. Betapa tidak. Rasulullah Saw.
benar-benar telah bersabda:
“Yad Allah bersama jama’ah. Apabila
diantara jama’ah itu ada yang memencil sendiri, maka syaitan pun akan
menerkamnya seperti halnya serigala menerkam kambing. Allah ridha pada
kamu tiga hal dan tidak suka tiga hal. Allah ridha kamu menyembahNya dan
tidak menyekutukanNya dengan sesuatu apapun; Kamu semua berpegang teguh
kepada tali (agama) Allah seluruhnya dan jangan bercerai-berai; dan
Kamu saling memperbaiki dengan orang yang dijadikan Allah sebagai
pemimpin kamu. Dan Allah membenci bagi kamu, saling membantah, banyak
tanya dan menyia-nyiakan harta benda. Jangan kamu saling dengki, saling
menjerumuskan, saling bermusuhan, saling membenci dan jangan sebagian
kamu menjual atas kerugian jualan sebagian yang lain dan jadilah kamu,
hamba-hamba Allah, bersaudara.” (H.R. Muslim).
Dikatakan dalam sebuah syair: “Suatu
ummat bagai jasad yang satu. Orang-orangnya ibarat anggota-anggota
tubuhnya. Setiap anggota punya tugas dan perannya.”
Seperti dimaklumi, manusia mesti
bermasyarakat, bercampur dengan yang lain; sebab tidak mungkin
seorangpun sendirian dalam memenuhi segala kebutuhan-kebutuhannya. Dia
mau tidak mau dipaksa bermasyarakat, berkumpul yang membawa kebaikan
bagi umatnya dan menolak keburukan dan ancaman bahaya daripadanya.
Karena itu, persatuan, ikatan batin satu dengan yang lain, saling bantu
menangani satu perkara dan seiya-sekata adalah merupakan penyebab
kebahagiaan yang terpenting dan faktor paling kuat bagi menciptakan
persaudaraan dan kasih sayang.
Berapa banyak negara-negara yang menjadi
makmur, hamba-hamba menjadi pemimpin yang berkuasa, pembangunan
jalan-jalan menjadi lancar, perhubungan menjadi ramai dan masih banyak
manfaat-manfaat lain dari hasil persatuan merupakan keutamaan yang
paling besar dan merupakan sebab dan sarana paling ampuh.
Rasulullah Saw. telah mempersaudarakan
sahabat-sahabatnya sehingga mereka (saling kasih, saling menyayangi dan
saling menjaga hubungan), tidak ubahnya satu jasad; apabila salah satu
anggota tubuh mengeluh sakit, seluruh jasad ikut merasa demam dan tidak
dapat tidur.
Itulah sebabnya mereka menang atas musuh
mereka, kendati jumlah mereka sedikit. Mereka tundukkan raja-raja.
Mereka taklukkan negeri-negeri. Mereka buka kota-kota. Mereka bentangkan
payung-payung kemakmuran. Mereka bangun kerajaan-kerajaan. Dan mereka
lancarkan jalan-jalan.
Firman Allah dalam al-Qur’an: “Dan Aku
telah memberikan kepadanya jalan (untuk mencapai) segala sesuatu.” (QS.
al-Kahfi ayat 84).
Benarlah kata penyair yang mengatakan
dengan bagusnya: “Berhimpunlah anak-anakku bila kegentingan datang
melanda. Jangan bercerai-berai sendiri-sendiri. Cawan-cawan enggan pecah
bila bersama. Ketika bercerai satu-satu pecah berderai.”
Sayyidina Ali Kw. berkata: “Dengan
perpecahan tak ada satu kebaikan dikaruniakan Allah kepada seseorang,
baik dari orang-orang terdahulu maupun orang-orang yang belakangan.”
Sebab, satu kaum apabila hati-hati
mereka berselisih dan hawa nafsu mereka mempermainkan mereka, maka
mereka tidak akan melihat sesuatu tempat pun bagi kemaslahatan bersama.
Mereka bukanlah bangsa bersatu, tapi hanya individu-individu yang
berkumpul dalam arti jasmani belaka. Hati dan keinginan-keinginan bereka
saling berselisih. Engkau mengira mereka menjadi satu, padahal hati
mereka berbeda-beda.
Mereka telah menjadi seperti kata
pepatah: “Kambing-kambing yang berpencaran di padang terbuka. Berbagai
binatang buas telah mengepungnya. Kalau sementara mereka tetap selamat,
mungkin karena binatang buas belum sampai kepada mereka (dan pasti suatu
saat akan sampai kepada mereka) atau karena saling berebut, telah
menyebabkan binatang-binatang buas itu saling berkelahi sendiri antara
mereka. Lalau sebagian mengalahkan yang lain. Dan yang menangpun akan
menjadi perampas dan yang kalah menjadi pencuri. Si kambingpun jatuh
antara si perampas dan si pencuri.”
Perpecahan adalah penyebab kelemahan,
kekalahan dan kegagalan di sepanjang zaman. Bahkan pangkal kehancuran
dan kemacetan, sumber keruntuhan dan kebinasaan, dan penyebab kehinaan
dan kenistaan. Betapa banyak keluarga-keluarga besar semula hidup dalam
keadaan makmur, rumah-rumah penuh dengan penghuni, sampai suatu ketika
kalajengking perpecahan merayapi mereka, bisanya menjalar meracuni hati
mereka dan syaitanpun melakukan perannya, mereka kucar-kacir tak keruan.
Dan rumah-rumah mereka runtuh berantakan.
Sahabat Ali Kw. berkata dengan fasihnya:
“Kebenaran dapat menjadi lemah karena perselisihan dan perpecahan dan
kebatilan sebaliknya dapat menjadi kuat dengan persatuan dan
kekompakan.”
Singkat kata siapa yang melihat pada
cermin sejarah, membuka lembaran yang tidak sedikit dari ikhwal
bangsa-bangsa dan pasang surut zaman serta apa saja yang terjadi pada
mereka hingga pada saat-saat kepunahannya, akan mengetahui bahwa
kekayaan yang pernah menggelimang mereka, kebangggan yang pernah mereka
sandang, dan kemuliaan yang pernah menjadi perhiasan mereka tidak lain
adalah karena berkat apa yang secara kukuh mereka pegang, yaitu mereka
bersatu dalam cita-cita, seia sekata, searah setujuan dan
pikiran-pikiran mereka seiring. Maka inilah factor paling kuat yang
mengangkat martabat dan kedaulatan mereka, dan benteng paling kokoh bagi
menjaga kekuatan dan keselamatan ajaran mereka.
Musuh-musuh mereka tak dapat berbuat
apa-apa terhadap mereka, malahan menundukkan kepala, menghormati mereka
karena wibawa mereka. Dan merekapun mencapai tujuan-tujuan mereka dengan
gemilang. Itulah bangsa yang mentarinya dijadikan Allah tak pernah
terbenam senantiasa memancar gemilang. Dan musuh-musuh mereka tak dapat
mencapai sinarnya.
Wahai ulama dan para pemimpin yang
bertaqwa di kalangan Ahlussunnah wal Jama’ah dan keluarga madzhab imam
empat; Anda sekalian telah menimba ilmu-ilmu dari orang-orang sebelum
Anda, orang-orang sebelum Anda menimba dari orang-orang sebelum mereka,
dengan jalan sanad yang bersambung sampai kepada Anda sekalian, dan Anda
sekalian selalu meneliti dari siapa Anda menimba ilmu agama Anda itu.
Maka dengan demikian, Anda sekalian
adalah penjaga-penjaga ilmu dan pintu gerbang ilmu-ilmu itu. Rumah-rumah
tidak dimasuki kecuali dari pintu-pintu. Siapa yang memasukinya tidak
melalui pintunya, disebut pencuri.
Sementara itu segolongan orang yang
terjun ke dalam lautan fitnah; memilih bid’ah dan bukan sunnah-sunnah
Rasul dan kebanyakan orang mukmin yang benar hanya terpaku. Maka para
ahli bid’ah itu seenaknya memutarbalikkan kebenaran, memungkarkan makruf
dan memakrufkan kemungkaran. Mereka mengajak kepada kitab Allah,
padahal sedikitpun mereka tidak bertolak dari sana. Mereka tidak
berhenti sampai di situ, malahan mereka mendirikan perkumpulan pada
perilaku mereka tersebut. Maka kesesatan semakin jauh. Orang-orang yang
malang pada memasuki perkumpulan itu.
Mereka tidak mendengar sabda Rasulullah
Saw.: “Maka lihat dan telitilah dari siapa kamu menerima ajaran agamamu
itu. Sesungguhnya menjelang hari kiamat, muncul banyak pendusta.
Janganlah kamu menangisi agama ini bila ia berada dalam kekuasaan
ahlinya. Tangisilah agama ini bila ia berada di dalam kekuasaan bukan
ahlinya.”
Tepat sekali sahabat Umar bin Khattab Ra. ketika berkata: “Agama Islam hancur oleh perbuatan orang munafiq dengan al-Qur’an.”
Anda sekalian adalah orang-orang yang
lurus yang dapat menghilangkan kepalsuan ahli kebathilan, penafsiran
orang yang bodoh dan penyelewengan orang-orang yang over acting; dengan
hujjah Allah, Tuhan semesta alam, yang diwujudkan melalui lesan orang
yang ia kehendaki.
Dan Anda sekalian kelompok yang disebut
dalam sabda Rasulullah Saw.: “Anda sekelompok dari umatku yang tak
pernah bergeser selalu berdiri tegak diatas kebenaran, tak dapat
dicederai oleh orang yang melawan mereka, hingga datang putusan Allah.”
Marilah Anda semua dan segenap pengikut
Anda dari golongan para fakir miskin, para hartawan, rakyat jelata dan
orang-orang kuat, berbondong-bondong masuk Jam’iyyah yang diberi nama
“Jam’iyyah Nahdlatul Ulama” ini. Masuklah dengan penuh kecintaan, kasih
sayang, rukun, bersatu dan dengan ikatan jiwa raga.
Ini adalah jam’iyyah yang lurus,
bersifat memperbaiki dan menyantuni. Ia manis terasa di mulut
orang-orang yang baik dan getir di tenggorokan orang-orang yang tidak
baik. Dalam hal ini hendaklah Anda sekalian saling mengingatkan dengan
kerjasama yang baik, dengan petunjuk yang memuaskan dan ajakan memikat
serta hujjah yang tak terbantah. Sampaikan secara terang-terangan apa
yang diperintahkan Allah kepadamu, agar bid’ah-bid’ah terberantas dari
semua orang.
Rasulullah Saw. bersabda: “Apabila
fitnah-fitnah dan bid’ah-bid’ah muncul dan sahabat-sahabatku dicaci
maki, maka hendaklah orang-orang alim menampilkan ilmunya. Barangsiapa
tidak berbuat begitu, maka dia akan terkena laknat Allah, laknat
Malaikat dan semua orang.”
Allah Swt. berfirman: “Dan saling tolong menolonglah kamu dalam mengerjakan kebaikan dan taqwa kepada Allah.”
Sayyidina Ali Kw. berkata: “Tak seorang
pun (betapapun lama ijtihadnya dalam amal) mencapai hakikat taat kepada
Allah yang semestinya. Namun termasuk hak-hak Allah yang wajib atas
hamba-hamba Nya adalah nasehat dengan sekuat tenaga dan saling bantu
dalam menegakkan kebenaran di antara mereka.”
Tak seorangpun (betapapun tinggi
kedudukannya dalam kebenaran, dan betapapun luhur derajat keutamaannya
dalam agama) dapat melampaui kondisi membutuhkan pertolongan untuk
memikul hak Allah yang dibebankan kepadanya. Dan tak seorangpun (betapa
kerdil jiwanya dan pandangan-pandangan mata merendahkannya) melampaui
kondisi dibutuhkan bantuannya dan dibantu untuk itu. Tak seorangpun
betapa tinggi kedudukannya dan hebat dalam bidang agama dan kebenaran
yang dapat lepas tidak membutuhkan bantuan dalam melaksanakan
kewajibannya terhadap Allah, dan tak seorangpun betapa rendahnya, tidak
dibutuhkan bantuannya atau diberi bantuan dalam melaksanakan
kewajibannya itu.
Tolong menolong atau saling bantu
pangkal keterlibatan umat-umat. Sebab kalau tidak ada tolong menolong,
niscaya semangat dan kemauan akan lumpuh karena merasa tidak mampu
mengejar cita-cita. Barang siapa mau tolong menolong dalam persoalan
dunia dan akhiratnya, maka akan sempurnalah kebahagiaannya, nyaman dan
sentosa hidupnya.
Sayyidina Ahmad bin Abdillah as-Saqqaf
berkata: “Jam’iyyah ini adalah perhimpunan yang telah menampakkan
tanda-tanda menggembirakan, daerah-daerah menyatu, bangunan-bangunannya
telah berdiri tegak, lalu kemana kamu akan pergi? Ke mana?”
Wahai orang-orang yang berpaling,
jadilah kamu orang-orang pertama, kalau tidak orang-orang yang menyusul
(masuk jam’iyyah ini). Jangan sampai ketinggalan, nanti suara
penggoncang akan menyerumu dengan goncangan-goncangan.
“Mereka (orang-orang munafiq itu) puas
bahwa mereka ada bersama orang-orang yang ketinggalan (tidak masuk ikut
serta memperjuangkan agama Allah). Hati mereka telah dikunci mati, maka
mereka pun tidak bias mengerti.” (QS. at-Taubah ayat 17).
“Tiada yang merasa aman dari adzab Allah kecuali orang-orang yang merugi”. (QS. al-A’raf ayat 99).
“Ya Tuhan kami, janganlah Engkau
condongkan hati kami kepada kesesatan setelah Engkau memberi hidayah
kepada kami, anugerahkanlah kepada kami rahmat dari sisiMu. Sesungguhnya
Engkau Maha Pemberi anugerah.” (QS. Ali Imran ayat 8).
“Ya Tuhan kami, ampunilah bagi kami
dosa-dosa kami, hapuskanlah dari diri-diri kami kesalahan-kesalahan kami
dan wafatkan kami beserta orang-orang yang berbakti.” (QS. Ali Imran
ayat 193).
“Ya Tuhan kami, karuniakanlah kami apa
yang Engkau janjikan kepada kami melalui utusan-utusanMu dan jangan
hinakan kami pada hari kiamat. Sesungguhnya Engkau tidak pernah
menyalahi janji.” (QS. Ali Imran ayat 194). ASWJANU
0 comments:
Post a Comment